Andai saja kami tidak dilahirkan sebagai hutan hutan yang mampu memberi makan hutan yang mampu memberi kehidupan hutan yang mampu menampung segala kesakitan
kami gagang sapu mencintai ibumu lebih dari ayahmu kami sepasang jendela rumahmu tidak utuh sebagian dari kami terpisah merantau jauh sebagian dari kami mati ditelan beton kota-kota raksasa
andai saja hidup memang sebuah pilihan tetapi suratan takdir Tuhan telah menetapkan merelakan diri dibunuh kapak lebih tajam dari belati meski tak bersuara tetapi kami memiliki hati nurani
andai saja bisa meminta dalam satu hari seluruh manusia berdiri sepanjang hari menggantikan kami; mendaur ulang udara, menguliti tubuhnya untuk dijadikan buku atau menahan erosi dengan kaki-kakinya sendiri
untuk sekadar menjaga keseimbangan dunia ini.
Bekasi, 2013.
1)
Seorang bayi laki-laki lahir dari liang vagina wanita sepi. Wanita hebat pintar merawat luka dan waktu. Bayi itu lahir biasa-biasa saja, tampang pas-pasan saja. Namun sebuah tanda lahir itu membuatnya tampak berbeda. Seperti penanda serupa titik koma dalam ejaan sastra lama. Tanda lahir itu tak lebih menyerupai koin dan berwarna kehitaman. Sehitam rambut ibunya, sehitam kenangannya. Sebuah tanda dari kebesaran Tuhan, katanya.
2)
Sepuluh tahun aku sudah merantau di sebuah kota asing. Kota ini lebih asing dari negeri paling asing di cerita-cerita dongeng. Mereka menyebutku penyair ternama. Padahal aku ini orang biasa-biasa saja, hidup dilimpahi kemiskinan-kemiskinan saja. Aku hidup di negara kaya yang diduduki petinggi-petinggi negeri yang miskin hati. Setiap hari aku sarapan kata-kata, setiap hari harus menelan janji-janji mereka. Anak-anakku belajar membaca dibiayai kata-kata. Istri acapkali mengomel sebab sudah dua hari periuk tak ada isi.
“Maaf istriku, buku puisiku tak laku lagi. Sebab Presiden juga menulis puisi karena bosan mengurusi negeri ini.”
3)
Kemarin sepasang wanita tiba-tiba ingin menangis. Wanita paruh baya dengan rambutnya yang mulai menua menggenggam secarik foto usang. Sementara satu lagi wanita muda tengah memeluk kedua anaknya yang mendengar ayahnya telah tiada. Mereka menangis, seluruh penduduk menangis hingga angkasa turut menangis mendengar berita pagi tentang kecelakaan dini hari. Seorang laki-laki tewas tersambar kereta tabrak lari. Tidak ditemukan identitas apa-apa. Wajahnya hancur seperti bubur nasi, tubuhnya berserakkan disepanjang rel hingga tak sanggup dikenali. Hanya tersisa utuh tangan sebelah kiri dengan sebuah tanda lahir berwarna hitam dan cincin yang melingkari jari manisnya dan setumpuk buku-buku puisi.
“Itu Suamiku!”
“Bukan, itu anakku!” seru kedua wanita yang menangis tadi.
Bekasi, 2013.
Batu Vulkanik memilih diam ketika pengrajin memukul tubuh-tubuh yang mencatat dan mematut waktu.
Batu Vulkanik memilih menangis ketika mereka meleburnya bersama logam baja untuk menyumpal perut-perut anaknya belum bertemu nasi sejak pagi hari dan istrinya selalu berkata periuk juga butuh isi.
Aku ini cermin yang memilih diam dipajang sudut kamar saban hari menghadapkan dan mengindahkan dunia khayalanmu betapa cantiknya engkau.
(atau barangkali kaulah satu-satunya wanita yang kutemui dalam hidupku.)
Aku ini cermin yang memilih diam saat kau berlenggak-lenggok, merias dirimu atau ketika kau senyum-senyum sendiri memikirkan seseorang yang barangkali kekasihmu.
Aku ini cermin yang memilih menangis saat kau pukul telak hingga hancur berkeping-keping ketika aku mengatakan dunia nyata sesungguhnya ada di hadapan matamu
bukan dari balik refleksi tubuhku.
Bekasi, 2013.
Kedai pinggir jalan tersaji kopi panas-dingin sendok dan pemanis saling bekerja sama untuk menghancurkan tubuh kita
kepulan asap terus membubung tinggi-tinggi melebihi daripada harapan diri sendiri terus memasukkan dan memasakkan rahasia
senja melangkah pulang sebab malam akan datang lampu bulan mulai dinyalakan hati-hati dimatikan sepasang bibir diam tanpa kata-kata yang berbicara hanyalah udara saja
benarkah mimpi yang tinggi terlalu rumit untuk digapai? sementara langkah terhenti dan hati merantai capai
maka kita sabdakan pertemuan ini sebagai rahasia sebelum pemiliknya menemukan kita sedang berbicara cinta.
Bekasi, 2013.
Rindu memang anak tak tahu diri sebab ia seringkali datang tanpa permisi benar saja pelukan baru tiba pukul tiga pagi.
Bekasi, 2013.