<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0"><channel><atom:link rel="hub" href="http://tumblr.superfeedr.com/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"/><description></description><title>Penyihir Hati</title><generator>Tumblr (3.0; @penyihirhati)</generator><link>http://penyihirhati.tumblr.com/</link><item><title>Nasib Pohon</title><description>&lt;p&gt;Andai saja kami tidak dilahirkan sebagai hutan                                              hutan yang mampu memberi makan                                                               hutan yang mampu memberi kehidupan                                                         hutan yang mampu menampung segala kesakitan&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;kami gagang sapu mencintai ibumu lebih dari ayahmu                                   kami sepasang jendela rumahmu tidak utuh                                                   sebagian dari kami terpisah merantau jauh                                                    sebagian dari kami mati ditelan beton kota-kota raksasa&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;andai saja hidup memang sebuah pilihan                                                       tetapi suratan takdir Tuhan telah menetapkan                                               merelakan diri dibunuh kapak lebih tajam dari belati                                      meski tak bersuara tetapi kami memiliki hati nurani&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;andai saja bisa meminta dalam satu hari                                                        seluruh manusia berdiri sepanjang hari menggantikan kami;                         mendaur ulang udara, menguliti tubuhnya untuk dijadikan buku                    atau menahan erosi dengan kaki-kakinya sendiri                                          &lt;/p&gt;
&lt;p&gt;untuk sekadar menjaga keseimbangan dunia ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Bekasi, 2013.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://penyihirhati.tumblr.com/post/49860585274</link><guid>http://penyihirhati.tumblr.com/post/49860585274</guid><pubDate>Tue, 07 May 2013 23:14:06 +0700</pubDate><category>puisi</category></item><item><title>Tanda Lahir</title><description>&lt;p&gt;1)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Seorang bayi laki-laki lahir dari liang vagina wanita sepi. Wanita hebat pintar merawat luka dan waktu. Bayi itu lahir biasa-biasa saja, tampang pas-pasan saja. Namun sebuah tanda lahir itu membuatnya tampak berbeda. Seperti penanda serupa titik koma dalam ejaan sastra lama. Tanda lahir itu tak lebih menyerupai koin dan berwarna kehitaman. Sehitam rambut ibunya, sehitam kenangannya. Sebuah tanda dari kebesaran Tuhan, katanya.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;2)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Sepuluh tahun aku sudah merantau di sebuah kota asing. Kota ini lebih asing dari negeri paling asing di cerita-cerita dongeng. Mereka menyebutku penyair ternama. Padahal aku ini orang biasa-biasa saja, hidup dilimpahi kemiskinan-kemiskinan saja. Aku hidup di negara kaya yang diduduki petinggi-petinggi negeri yang miskin hati. Setiap hari aku sarapan kata-kata, setiap hari harus menelan janji-janji mereka. Anak-anakku belajar membaca dibiayai kata-kata. Istri acapkali mengomel sebab sudah dua hari periuk tak ada isi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&amp;#8220;Maaf istriku, buku puisiku tak laku lagi. Sebab Presiden juga menulis puisi karena bosan mengurusi negeri ini.&amp;#8221;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;3)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kemarin sepasang wanita tiba-tiba ingin menangis. Wanita paruh baya dengan rambutnya yang mulai menua menggenggam secarik foto usang. Sementara satu lagi wanita muda tengah memeluk kedua anaknya yang mendengar ayahnya telah tiada. Mereka menangis, seluruh penduduk menangis hingga angkasa turut menangis mendengar berita pagi tentang kecelakaan dini hari. Seorang laki-laki tewas tersambar kereta tabrak lari. Tidak ditemukan identitas apa-apa. Wajahnya hancur seperti bubur nasi, tubuhnya berserakkan disepanjang rel hingga tak sanggup dikenali. Hanya tersisa utuh tangan sebelah kiri dengan sebuah tanda lahir berwarna hitam dan cincin yang melingkari jari manisnya dan setumpuk buku-buku puisi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&amp;#8220;Itu Suamiku!&amp;#8221;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;&amp;#8220;Bukan, itu anakku!&amp;#8221; &lt;/em&gt;seru kedua wanita yang menangis tadi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Bekasi, 2013.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://penyihirhati.tumblr.com/post/49859676409</link><guid>http://penyihirhati.tumblr.com/post/49859676409</guid><pubDate>Tue, 07 May 2013 22:55:54 +0700</pubDate></item><item><title>Dunia Cermin</title><description>&lt;p&gt;Batu Vulkanik memilih diam ketika pengrajin memukul tubuh-tubuh yang mencatat dan mematut waktu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Batu Vulkanik memilih menangis ketika mereka meleburnya bersama logam baja untuk menyumpal perut-perut anaknya belum bertemu nasi sejak pagi hari dan istrinya selalu berkata periuk juga butuh isi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku ini cermin yang memilih diam dipajang sudut kamar saban hari menghadapkan dan mengindahkan dunia khayalanmu betapa cantiknya engkau.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;(atau barangkali kaulah satu-satunya wanita yang kutemui dalam hidupku.)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku ini cermin yang memilih diam saat kau berlenggak-lenggok, merias dirimu atau ketika kau senyum-senyum sendiri memikirkan seseorang yang barangkali kekasihmu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Aku ini cermin yang memilih menangis saat kau pukul telak hingga hancur berkeping-keping ketika aku mengatakan dunia nyata sesungguhnya ada di hadapan matamu&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;bukan dari balik refleksi tubuhku.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Bekasi, 2013.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://penyihirhati.tumblr.com/post/49359572808</link><guid>http://penyihirhati.tumblr.com/post/49359572808</guid><pubDate>Wed, 01 May 2013 21:19:34 +0700</pubDate><category>puisi</category></item><item><title>Narasi Secangkir Kopi</title><description>&lt;p&gt;Kedai pinggir jalan tersaji kopi panas-dingin                                                  sendok dan pemanis saling bekerja sama                                                      untuk menghancurkan tubuh kita&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;kepulan asap terus membubung tinggi-tinggi                                                 melebihi daripada harapan diri sendiri                                                            terus memasukkan dan memasakkan rahasia&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;senja melangkah pulang sebab malam akan datang                                      lampu bulan mulai dinyalakan hati-hati dimatikan                                           sepasang bibir diam tanpa kata-kata                                                              yang berbicara hanyalah udara saja&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;benarkah mimpi yang tinggi terlalu rumit untuk digapai?                                sementara langkah terhenti dan hati merantai capai&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;maka kita sabdakan pertemuan ini sebagai rahasia                                       sebelum pemiliknya menemukan kita sedang berbicara cinta.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Bekasi, 2013.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://penyihirhati.tumblr.com/post/49359564272</link><guid>http://penyihirhati.tumblr.com/post/49359564272</guid><pubDate>Wed, 01 May 2013 21:19:23 +0700</pubDate><category>puisi</category><category>rindu</category></item><item><title>Pukul Tiga Pagi</title><description>&lt;p&gt;Rindu memang anak tak tahu diri                                                                   sebab ia seringkali datang tanpa permisi                                                       benar saja pelukan baru tiba pukul tiga pagi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Bekasi, 2013.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://penyihirhati.tumblr.com/post/49358339299</link><guid>http://penyihirhati.tumblr.com/post/49358339299</guid><pubDate>Wed, 01 May 2013 20:52:11 +0700</pubDate><category>puisi</category><category>rindu</category></item><item><title>Terang saja, Pantas Saja</title><description>&lt;p&gt;Terang saja aku mencintaimu                                                                         sebab dikedalaman mata bening itu                                                               tersesat sudah aku di sana dan tenggelam&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;pantas saja aku bosan menulis puisi                                                              membiarkan mereka menemukan jalan hidupnya sendiri                               sebab aku tak lagi butuh metafora dan diksi                                                  tubuhmu itu adalah puisi&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;terang saja bibirmu mampu menghipnotis sepasang mataku                         sebab bagian lain dari tubuhmu menumpang hidup di senyumanmu&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;pantas saja aku tak mampu mengetuk hatimu                                                sebab hati selalu memiliki pintu                                                                      sementara kau menguncinya dari dalam&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;terang saja aku tak pernah tertawa sesakit ini                                                mendengar kau percaya cinta adalah sebuah fatamorgana                           sementara aku percaya dengan sesuatu yang tak ada.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Bekasi, 2013.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://penyihirhati.tumblr.com/post/48356571888</link><guid>http://penyihirhati.tumblr.com/post/48356571888</guid><pubDate>Fri, 19 Apr 2013 21:20:45 +0700</pubDate><category>puisi</category></item><item><title>Siklus</title><description>&lt;p&gt;Hatimu tak ubahnya dedaunan yang jatuh                                                     tetapi kau tak pernah membenci angin                                                           bahkan musim gugur sengaja menebasmu dari pepohonan                          melebur bersama tanah dan hidup kembali&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;hatimu ialah serupa embun-embun pagi                                                         namun kau tak pernah membenci matahari                                                    bahkan awan yang diselimuti api dan menjadikannya hujan                           kemudian turun ke bumi membawa puisi cinta&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;dan pada akhirnya segala kebohongan akan kembali                                    menuju kebenaran dibungkus topeng-topeng abadi&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;berhentilah kau menampung duka                                                                 biarlah lukamu dibawa air menuju laut                                                            biarlah lukamu belajar bertahan hidup                                                           bertarung seorang diri melawan badai dan ombak&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;barangkali kau mampu membohongi aku                                                       tetapi kau tak bisa menipu waktu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Bekasi, 2013&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://penyihirhati.tumblr.com/post/48356568148</link><guid>http://penyihirhati.tumblr.com/post/48356568148</guid><pubDate>Fri, 19 Apr 2013 21:20:40 +0700</pubDate><category>puisi</category></item><item><title>Pemerasan</title><description>&lt;p&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;&lt;a name="_GoBack"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;Ditulis oleh: Rangga Rivelino (@rivelno)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Langit kelam, tak ada lagi sinar matahari yang bersinar karena hari benar-benar sudah malam. Kota tampak bercahaya seperti kunang-kunang. Jalanan diburu kemacetan, mobil-mobil terjejer tak teratur hanya untuk berlomba-lomba memamerkan harta mereka. Klab malam segera dipenuhi wanita penghibur dan lelaki pemabuk. Dosa-dosa berkumpul menjadi satu tanda di setiap tikungan kota ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Waktu menunjukkan pukul&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;21.30, aku masih saja sibuk berada di kantor untuk membereskan pekerjaan yang harus kupresentasikan esok pagi. Lima belas menit kemudian, teleponku berdering nyaring sekali.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Ya, ada apa, Eliza?” tanyaku kurang begitu senang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Maaf tuan, istri bapak ingin bicara.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Tiba-tiba suara laki-laki terdengar parau menjawab di ujung telepon sana. Seketika wajahku berubah menjadi cerah. Eliza adalah wanita cantik yang kunikahi dua tahun yang lalu. &lt;span&gt; &lt;/span&gt;Tapi siapakah lelaki ini yang menelepon dari rumahku, padahal di rumah hanya ada istriku? Tetapi mengapa ia memanggil namaku dengan sebutan ‘tuan’? Ini sungguh aneh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Halo sayang, tumben jam segini kamu menelepon. Aku pikir kamu sudah tidur.” Hening, tidak ada jawaban. Hanya ada suara wanita menangis ketakutan. Aku terperanjat keheranan. Aku bisa merasakan ada sesuatu yang tak beres di rumahku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Halo Eliza, ada apa?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Tak lama Eliza menjawab, diselingi isak tangis. “Sayang.. tolong aku. Aku takut.. Tolong aku..”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;Aku merasa dadaku dihempas ke udara, lalu dijatuhkan kembali ke tanah dengan mendarat sangat keras. Tubuhku melemas seketika.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Kemudian suara laki-laki tadi muncul kembali dari telepon genggamku. Suaranya berat dan agak parau, jelas sekali laki-laki ini sengaja mengubah suaranya agar tidak bisa dikenali.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Braga Ramadhan, dengar baik-baik. Kalau mau istri anda selamat, ikuti perintah saya. Jangan coba-coba berani panggil polisi, saya tidak segan-segan melukai istri anda yang cantik ini, bahkan membunuhnya jika perlu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Tapi pak!” selaku tak berdaya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Jangan potong omongan saya! Nah sekarang anda berdiri dan pergilah ke Bank. Terus anda ambil uang dari tabungan anda sebesar seratus lima puluh juta rupiah. Jangan sampai kurang sepeser pun. Kemudian anda kembali ke kantor. Tepat pukul 22.15 ada seseorang yang bernama Baron akan menemui Anda. &lt;span&gt;S&lt;/span&gt;erahkan uang tersebut kepadanya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Aku lemas sekali, seolah-olah kedua lututku tak lagi berada di tempatnya. Aku masih ingin bicara dengan istriku. “Tolong saya mau bicara dengan istri saya sebentar. Tolong..” kataku setengah memelas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Hening sebentar, kemudian, “Sayang..&lt;span&gt;  &lt;/span&gt;Aku takut. Tolong aku.. Tolong aku..” suara Eliza makin lama perlahan-lahan menghilang dan hening kembali. Sambungan terputus.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Aku langsung menekan tombol nomor tiga, tombol panggilan cepat. Di layar telepon genggamku tertulis ‘Home’ dengan di atasnya sebuah gambar rumah kecil. Jariku dan tanganku bergemetar, keringat terus membanjiri dari keningku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Sial! Telepon sibuk.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Aku coba sekali lagi, kali ini aku menelepon telepon genggam Eliza. Setelah beberapa menit tak kunjung dijawab, lalu menelepon rumah kembali. Aku sungguh sangat gusar sekali.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Bangsat!” makianku hampir terdengar ke seluruh ruangan kantor, untung saja semua pegawai sudah pulang sejak jam lima sore tadi. Mungkin hanya ada &lt;em&gt;cleaning service &lt;/em&gt;dan beberapa orang satpam di depan kantor, itu pun kalau mereka mendengarnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Sudah tiga kali aku coba, telepon rumah masih saja sibuk. Rupanya, gagang telepon sengaja tak dikembalikan pada tempatnya. Aku melirik jam tangan, pukul 21.29. Tiba-tiba aku teringat pada polisi. Ah, tidak mungkin, terlalu berbahaya memanggil polisi. Bisa-bisa mengancam keselamatan nyawa Eliza, pikirku dalam hati sehingga kuurungkan niatku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Tanpa berpikir panjang lagi, aku bangkit dari kursi. Bangku dan kertas berkas-berkas sudah kurapikan. Tak lupa aku memakai jaket tebal mengingat cuaca buruk sedang melanda kota ini dan melangkahkan kaki menuju lift. Waktu keluar lift, aku sempat berpapasan dengan sekretarisku, Nova memandang wajah pucatku dengan heran. Aku berusaha untuk tersenyum.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Saya mau pergi ke Bank sebentar, Nova. Kalau kerjaanmu belum selesai lanjutkan saja di rumah.” Nova mengangguk ketika pintu lift ditutup olehnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Braga Hadi Ramadhan, pemilik tunggal perusahaan asuransi terbesar di negara ini, menyebrangi jalan Pemuda dengan gerakan seperti robot. Di sebuah toko aku membeli sebuah koper kecil berwarna hijau daun, kemudian pergi lagi menuju jalan Bunga. Hanya beberapa blok saja dari toko tersebut. Setiap kali melangkah, aku seperti mendengar suara Eliza. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Sayang.. Tolong aku.. Tolong aku..”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Semakin nyaring ngiangan suaranya, aku mempercepat langkahku. Namun semakin cepat langkahku, suaranya semakin lantang terdengar di kepalaku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Sayang.. Tolong aku..”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Tepat pukul 21.55 aku sudah kembali ke kantorku. Di atas kursi yang cukup empuk, aku gelisah dan takut bercampur aduk. Setiap sepuluh detik, aku melirik jam tangan berwarna keemasan yang melingkar di lengan kiriku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Pukul 21.59, dengan gerakan kaku aku mengambil telepon genggam dan menelepon rumah.. percuma.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Pukul 22.10, tinggal lima menit lagi&lt;/span&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"&gt;&lt;span&gt;, ka&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;taku dalam hati. &lt;/span&gt;&lt;span&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span&gt;udah kesebelas kalinya &lt;/span&gt;&lt;span&gt;aku&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;melihat uang yang ditumpuk rapi, pas, tidak kurang dan tidak lebih. Seratus lima puluh juta rupiah. Memang bukan nominal yang kecil, tapi mengingat keselamatan Eliza uang itu tak ada apa-apanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Pukul 10.15. &lt;/span&gt;&lt;span&gt;M&lt;/span&gt;&lt;span&gt;ana orang suruhannya? Keringatku terus mengucur, membasahi hampir seluruh kemejaku. Tak lama kemudian, pintu diketuk dari luar. Nova&lt;/span&gt;&lt;span class="MsoCommentReference"&gt;&lt;span&gt;, s&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;ang sekretarisku, masuk. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Maaf pak.. Ada Bapak Baron ingin bertemu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Mana dia? Suruh segera masuk.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Pintu kembali terbuka saat Nova melangkah keluar dan masuklah seorang laki-laki berpakaian &lt;em&gt;parlente&lt;/em&gt;. Kalau dilihat-lihat dari gayanya, bisa jadi ia seorang pengusaha. Ia memperkenalkan dirinya sebelum kusuruh duduk terlebih dahulu. Sorot matanya tajam dan dingin bagai es saat ia menatapku. Kumis dan jambangnya yang panjang membuatnua semakin terkesan seram “Mana uangnya?” ia membentakku dengan suara lantang. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Aku ingin bangkit dari kursi, tetapi kakiku terasa tak kuat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Mana istri saya?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Dia masih hidup&lt;/span&gt;&lt;span&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;cantik seperti biasanya, dan akan tetap hidup kalau &lt;span&gt;A&lt;/span&gt;nda tetap tenang.” Si pemeras tersenyum kemenangan. Senyumnya benar-benar mengejekku.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Bagaimana bisa tenang kalau saya belum melihat istri saya?!” Hampir saja emosiku meledak-ledak. Jika saja tak teringat dengan Eliza, mungkin sudah sedari tadi aku membuka laci, lalu mengambil pistol yang terselip di bawah buku dan memuntahkan isi kepala bajingan ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Di seberang jalan ada telepon umum. Dari sana saya akan menelepon kawan saya. Lima menit kemudian setelah saya pergi dari sana, anda boleh menelepon istri &lt;/span&gt;&lt;span&gt;A&lt;/span&gt;&lt;span&gt;nda atau polisi jika kau mau! Tapi jangan coba-coba. Satu menit terlalu cepat..” Baron mendekatkan wajahnya ke arahku. Aku bisa melihat mata penjahat ini kelihatan liar sekali. “..satu menit terlalu cepat dan &lt;/span&gt;&lt;span&gt;A&lt;/span&gt;&lt;span&gt;nda tidak akan bertemu istri &lt;/span&gt;&lt;span&gt;A&lt;/span&gt;&lt;span&gt;nda lagi. Selamanya!” lanjutnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Aku gemetar. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Ayo mana uangnya? Waktu kita tak banyak.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Aku mengambil koper berwarna hijau yang telah kupersiapkan dan menaruhnya di atas meja. Tanpa basa-basi, Baron langsung membuka dan menghitung isinya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Terima kasih. Senang berurusan dengan &lt;/span&gt;&lt;span&gt;A&lt;/span&gt;&lt;span&gt;nda, Tuan Braga.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Setelah peme&lt;/span&gt;&lt;span&gt;r&lt;/span&gt;&lt;span&gt;as itu bangkit, berbalik badan dan menutup pintu, aku berlari menuju jendela, balik ke meja kerja, menelepon rumah dan masih saja sibuk, balik lagi ke jendela. Sementara itu kulihat Baron menyeb&lt;/span&gt;&lt;span&gt;e&lt;/span&gt;&lt;span&gt;rang jalan, masuk ke telepon umum, mengangkat gagangnya, memasukkan koin, memilih nomor—dan menutupnya kembali. Sebelum ia meninggalkan telepon umum dan menghilang di keramaian jalan, ia sempat-sempatnya melambaikan tangan ke arahku. Aku melirik jam tangan. Lima menit lagi aku harus menunggu. Lagi-lagi aku mencoba menelepon rumah.. tut-tut-tut-tut, sibuk. Bangsat! Makianku keluar sekali lagi.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Tepat enam menit kemudian, aku menelepon polisi lalu berlari menuju parkiran. Masuk dan ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya. Aku ingin sekali secepatnya sampai rumah. Kupacu Ferrari berwarna merah marun dengan kecepatan seratus kuda. Tetapi apa daya, jalanan kota ternyata macet sekali. Gelisah, takut dan kesal bercampur menjadi satu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Eliza, 28tahun, sudah dua tahun membangun rumah tangga bersamaku dan belum dikaruniai anak, menunggu aku di rumah bersama dua orang berpakaian polisi. Eliza masih gemetar karena takut, sementara salah seorang polisi yang berbadan gempal sudah tidak sabar.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Saya sudah berusaha menelepon, tetapi telepon rumah terus-terusan sibuk.” Kataku memberi penjelasan. Kulihat Eliza berusaha keras untuk tidak menangis, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Orang itu merusak telepon kami. Beberapa kali aku mencoba menelepon dengan telepon genggam namun tidak bisa..” lanjut Eliza disertai isak tangisnya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Si polisi berbadan gempal ini rupanya sudah tak sabar lagi. “Nanti saja anda bicarakan lagi. Sekarang tolong ceritakan orang yang mengambil uangnya, juga soal koper hijaunya. Semuanya secara jelas dan terperinci. Setiap keterangan, sekecil apa pun bisa menjadi berharga sekali.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Aku menatap Eliza yang sudah menangis lagi, tetapi istriku malah mengatakan, ”Sudahlah sayang, aku sudah tak apa. Pak Polisi butuh keteranganmu secepatnya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Akhirnya aku mulai bercerita&lt;span&gt;,&lt;/span&gt; sejak awal mula kejadian buruk malam ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Tujuh jam kemudian, matahari kembali terbit dari ufuk barat&lt;span&gt;.&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Kudengar&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;kokok ayam dan tetangga sebelah yang menghidupkan mesin mobilnya. &lt;/span&gt;&lt;span&gt;B&lt;/span&gt;&lt;span&gt;erisik sekali. &lt;span&gt;Kebohongan repetisi&lt;/span&gt; setiap pagi. Eliza membuka pintu kamar &lt;/span&gt;&lt;span&gt;dan&lt;/span&gt;&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;span&gt;membawakanku secangkir kopi di atas nampan metalik. Aku sangat mencintainya.&lt;/span&gt;&lt;span&gt;I&lt;/span&gt;&lt;span&gt;a pandai sekali membuat kopi hitam kesukaanku, rasanya pun tak kalah jauh dengan kedai kopi ternama di seluruh kota ini. Eliza menutup pintu ketika aku bangkit dari ranjang dan berjalan menuju telepon, menghubungi Kantor Polisi. Sewaktu aku mengembalikan gagang telepon, Eliza menatap mataku dengan perasaan kalut.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“kenapa kau memanggil polisi pagi-pagi begini, &lt;/span&gt;&lt;span&gt;S&lt;/span&gt;&lt;span&gt;ayang?” tanyanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Aku mencoba bersikap tegar, tetapi mataku tak bisa dibohongi dengan tatapan meperlihatkan kesedihan yang luar biasa.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;“Aku baru sadar kalau kamu terlibat dalam pemerasan omong kosong ini. Ini &lt;/span&gt;&lt;span&gt;c&lt;/span&gt;&lt;span&gt;uma akal-akalanmu saja. Supaya polisi nanti yang mengurusnya.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span&gt;Praaang! Suara cangkir jatuh pecah berantakan dan kopi hitam membasahi lantai kamar yang terbuat dari bebatuan Marmer. Eliza hening tanpa kata-kata.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;Aku sudah kehilangan segalanya, termasuk harta satu-satunya yang paling berharga.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;

&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;Bekasi, 2013.&lt;/strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;Tulisan ini telah diikutsertakan dalam ajang #SharingKarya oleh @BintangBerkisah.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;span&gt;&lt;strong&gt;&lt;br/&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://penyihirhati.tumblr.com/post/47031532576</link><guid>http://penyihirhati.tumblr.com/post/47031532576</guid><pubDate>Wed, 03 Apr 2013 23:58:34 +0700</pubDate><category>cerpen</category><category>Cerita detektif</category><category>SharingBintangBerkisah</category></item><item><title>Telepon Genggam</title><description>&lt;p&gt;1)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bulan malu-malu keluar dari gaun malam                                                   separuh terang katamu                                                                              separuh gelap kataku                                                                                 seperti gelas yang benar-benar tak terisi penuh&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;2)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kata-kata terdengar lebih lantang                                                              seperti peluru senapan melompat keluar menuju udara                             sedang lain kata-kata terdengar lebih sunyi                                               seperti makam-makam kini tak berpenghuni&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;3)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Waktu dipukul telak angka satu                                                                  setelah itu tidak kudengar apa-apa lagi kecuali dengus napasmu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Bekasi, 2013.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://penyihirhati.tumblr.com/post/47027084032</link><guid>http://penyihirhati.tumblr.com/post/47027084032</guid><pubDate>Wed, 03 Apr 2013 22:40:31 +0700</pubDate><category>puisi</category></item><item><title>Penyair Sinting</title><description>&lt;p&gt;Hari ini aku ingin membeli papan nisan berwarna coklat.                                &lt;em&gt;Untuk siapa?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Untukku. Nanti kutulis namaku sendiri beserta tanggal lahirku&lt;em&gt;.                    Kupikir kau sudah gila ya?&lt;br/&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tidak. Aku tidak gila hanya saja tidak ingin merepotkan orang lain.               &lt;em&gt;Baiklah. Lalu kapan kau mau mati?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Entahlah. Mungkin saja besok, tahun depan atau satu jam lagi. Hidup ini penuh dengan kemungkinan-kemungkinan dan kebetulan.                           &lt;em&gt;Bagaimana jika aku rindu padamu?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kau bisa mengunjungi makamku.                                                                   &lt;em&gt;Bagaimana jika aku ingin memelukmu?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kau bisa memeluk tanah makamku nanti.                                                       &lt;em&gt;Bagaimana jika aku ingin menciummu?&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kau bisa mencium mesra nisanku sepuasnya.                                            &lt;em&gt;  Dasar penyair sinting! Berhenti membaca buku-buku. Kata-kata mereka telah menelan otakmu.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Kau tak akan mengerti. Rindu-rindu dalam dadamu akan menjelma bunga-bunga mawar melati yang kau tebar-taburkan diatas epitafku, nanti.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jangan diam saja, ayo temani aku ke rumah sakit jiwa. Aku bosan di dunia ini sudah terlalu banyak orang-orang sinting.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Bekasi, 2013.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://penyihirhati.tumblr.com/post/46672697671</link><guid>http://penyihirhati.tumblr.com/post/46672697671</guid><pubDate>Sat, 30 Mar 2013 21:44:00 +0700</pubDate><category>puisi</category></item><item><title>Memoar</title><description>&lt;p&gt;Malam itu kita pergi berdua naik kereta kehujanan                                        sepanjang rel menyanyi-nyanyi riang                                                             roda-roda serupa kaki kuda berlarian kencang                                              &lt;em&gt;cekit cekit cekit cekit cekit cekit&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Malam sudah sangat larut                                                                              botol-botol bir lenyap sudah di bibir kita                                                         hatiku menguap menuju hatimu tampak seperti awan&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;dunia kembali ke asal-muasal kisah cinta                                                       melahirkan dongeng picisan penuh rahasia&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;malam itu kita pergi berdua naik kereta kehujanan                                        degup dada kita melaju semakin kencang                                                      &lt;em&gt;dag dig dug dag dig dug&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;malam itu kita bagai sepasang kuda                                                                dalam memoar ingatan.&lt;em&gt;&lt;br/&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Bekasi, 2013.&lt;br/&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://penyihirhati.tumblr.com/post/46672561263</link><guid>http://penyihirhati.tumblr.com/post/46672561263</guid><pubDate>Sat, 30 Mar 2013 21:42:37 +0700</pubDate><category>puisi</category></item><item><title>Mata</title><description>&lt;p&gt;Ada tiga mata yang berjumpa di kedai kopi pinggir jalan itu                           matasenja, matakaca dan matahati.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;matasenja diam-diam mengintip kita duduk berdua                                        seolah-olah aku baru saja membuat dunia cemburu kepadamu&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;matakaca yang bersembunyi tampak seperti laut biru                                    tersenyum malu-malu ketika aku berkaca di situ&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;matahati berkata bahwa pencarian telah berakhir                                          engkaulah jawaban atas pertanyaan yang belum kutemukan&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;aku pikir kita sedang dimata-matai oleh Tuhan                                               lekaslah berdoa biar segalanya Dia yang aminkan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Bekasi, 2013.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://penyihirhati.tumblr.com/post/46672550537</link><guid>http://penyihirhati.tumblr.com/post/46672550537</guid><pubDate>Sat, 30 Mar 2013 21:42:27 +0700</pubDate><category>puisi</category></item><item><title>Rapuh</title><description>&lt;p&gt;Hati tak kuat lagi menampung rindu yang gamang terus memburu engkau&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;rindu tak tahan lagi menampung gamang yang kencang terus menjangkau engkau&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;gamang tak sanggup lagi menampung sakit yang terus merindukan engkau&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;aku tak perkasa lagi menampung hati yang bilur terus disayat engkau.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Bekasi, 2013.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://penyihirhati.tumblr.com/post/46669632961</link><guid>http://penyihirhati.tumblr.com/post/46669632961</guid><pubDate>Sat, 30 Mar 2013 20:51:30 +0700</pubDate><category>puisi</category></item><item><title>Puisi: Aku</title><description>&lt;p&gt;Aku terseret arus cinta dan ombak rindu lautan dendam                               sungguh aku tak mampu berenang hingga tenggelam                                   akulah nahkoda kapal yang mati dan karam&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;hati adalah sebuah celah sempit dan mahadalam                                          pikiran tak ubahnya rencana sederhana hendak disulam                              adalah kita sebuah tempat cinta, luka dan duka bersemayam.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Bekasi, 2013.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://penyihirhati.tumblr.com/post/46668928761</link><guid>http://penyihirhati.tumblr.com/post/46668928761</guid><pubDate>Sat, 30 Mar 2013 20:37:48 +0700</pubDate><category>puisi</category></item><item><title>Kini Bisa Kurayakan Kesepian Dan Kesendirianku Lebih Meriah Sementara Kau Merayakan Pelukan Dan Kebahagiaan Dengan Megah</title><description>&lt;p&gt;Jangan ganggu aku kenangan                                                                       saya sedang sibuk menulis engkau sebagai puisi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Bekasi, 2013.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://penyihirhati.tumblr.com/post/46668613874</link><guid>http://penyihirhati.tumblr.com/post/46668613874</guid><pubDate>Sat, 30 Mar 2013 20:31:36 +0700</pubDate><category>puisi</category></item><item><title>Phobophobia </title><description>&lt;p&gt;Aku ini&lt;span&gt;&lt;span&gt; Acrophobia sementara kau Metrophobia                                            tidak ada gunanya kutinggi-tinggikan engkau dengan puisi-puisi.&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;span&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;Bekasi, 2013.&lt;/em&gt;&lt;br/&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://penyihirhati.tumblr.com/post/46668215205</link><guid>http://penyihirhati.tumblr.com/post/46668215205</guid><pubDate>Sat, 30 Mar 2013 20:23:31 +0700</pubDate></item><item><title>Perjalanan</title><description>&lt;p&gt;Dunia baru saja dimulai saat cinta tiba                                                           seperti kereta yang kau tunggu untuk menetap di sebuah kota                     untuk jangka waktu yang sangat lama.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Bekasi, 2013.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://penyihirhati.tumblr.com/post/46667721535</link><guid>http://penyihirhati.tumblr.com/post/46667721535</guid><pubDate>Sat, 30 Mar 2013 20:12:59 +0700</pubDate><category>puisi</category></item><item><title>Udara 2</title><description>&lt;p&gt;Aku adalah udara yang meniup sepasang sayapmu                                      membantu dan menerbangkanmu menuju angkasa raya                               setelah itu aku yang terlupa saat kau mengejar entah apa.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Bekasi, 2013.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://penyihirhati.tumblr.com/post/46667524435</link><guid>http://penyihirhati.tumblr.com/post/46667524435</guid><pubDate>Sat, 30 Mar 2013 20:08:37 +0700</pubDate><category>puisi</category></item><item><title>Sendiri</title><description>&lt;p&gt;Seringkali di dalam hati aku berbicara sendiri                                                barangkali mengaminkan doa kita dalam puisi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Bekasi, 2013.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://penyihirhati.tumblr.com/post/46667321472</link><guid>http://penyihirhati.tumblr.com/post/46667321472</guid><pubDate>Sat, 30 Mar 2013 20:04:00 +0700</pubDate><category>puisi</category></item><item><title>Udara</title><description>&lt;p&gt;Aku adalah sesuatu yang kau hirup                                                               masuk dan terperangkap di jantungmu                                                          setelah itu kau hembuskan sia-sia.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;em&gt;Bekasi, 2013.&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;</description><link>http://penyihirhati.tumblr.com/post/45993815982</link><guid>http://penyihirhati.tumblr.com/post/45993815982</guid><pubDate>Fri, 22 Mar 2013 22:22:30 +0700</pubDate><category>puisi</category></item></channel></rss>
